Saturday, November 5, 2016

Antara mitos orang tua dan Syariat Agama

https://scontent.fsub2-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-0/s526x395/Mungkin bagi para anak yang tinggal di kampung halaman, atau di desa desa kelahiran,
masih tersimpan mitos mitos yang katanya dari dawuh orang tua, yang seolah olah pernyataan itu mutlak tak boleh dibantah, dan harus dipatuhi bagi si anak.

seperti contoh, ketika baru lahiran, kalau dari mana mana harus cuci kaki, gak boleh langsung nyentuh bayi, atau kalau pergi kemana mana harus bawa gunting, atau peniti, dan hal hal yang diluar logika lainnya.

Sebagai seorang anak yang sedikit sedikit sudah ditanamkan ilmu syariat, tentu hal hal yang demikian itu tidak perlu di percaya sebagai sebuah kebenaran, apalagi jika sampai percaya akan mendatangkan kesialan karna gak mengikuti itu,

Tapi tidak dibenarkan juga untuk menentang pernyataan itu kepada orang tua, bagaimanapun mereka lebih dulu makan asam garam dan lebih paham akan lika liku hidup di dunia ini, sehingga atas jasanyalah kita bisa sampai segede ini, dengan kasih sayangnya, dengan pengalaman merawat anak dan mendidik yang luar biasa.

Maka hematlah kiranya jika kita sikapi mitos mitos itu dengan logika sederhana saja, tanpa sedikitpun mempercayai akan hal mistisnya, karna barang siapa yang percaya akan adanya kesialan karna tidak melakukan ini dan itu, maka sungguh ia telah syirik kepada Allah,

Jika diperintahkan untuk cuci kaki sebelum menyentuh bayi, ya anggap saja itu agar lebih bersih dan terjaga dari kotoran, ya bisa saja kan kita nginjek tai ayam di jalan, atau ketika harus bawa gunting kemana mana, ya anggap saja gunting itu kan bisa digunakan buat gunting kuku dan lain lain.

Simple saja, selain menjaga aqidah, kita juga masih bisa menghormati dan patuh terhadap orang tua, karna bagaimanapun, mereka adalah mutiara, yang kemuliaannya harus tetap kita jaga, meski sampai lusuh dan rapuh.

Ya Allah, selamatkan aku dan keluargaku, dari godaan syetan yang membawa kami kepada kesesatan, jauhkanlah kami dari bisikkan jahat yang membawa kami kepada kehinaan..

Aamiin..

5 November 2016
Masjid Agung Ibnu Batutah
Nusa Dua, Bali

Related Posts:

  • Kebahagiaan kebahagiaan itu relatif, ada yg mendambakan kebahagiaan adalah ketika masa depannya nanti succes, bisa kelililng dunia, dan bla bla bla... ada yang mendambakan kebahagiaan itu kaya raya, rumah mobil mewah, dan bla bla … Read More
  • Review my Status facebook Saya sempat kaget, tiba tiba ada seorang temen yang menginbox fb ku, dan setelah ku buka filenya,ternyata kumpulan status status fb ku dari jaman dahulu kala hingga yang terahir up date, ternyata temen saya ini cukup terta… Read More
  • Pertemuan Terakhir dengan IbuPada saat itu matahari masih bersinar hangat, karna waktu masih menunjukan pukul 08:30 pagi, akupun berpamitan kepada ibuku untuk kembali kepulau harapan, Bali, karna dipulau itulah aku bekerja mencari nafkah, dan pengalaman … Read More
  • Jangan Contoh Aku Aku Aku bisa menasihati orang lain,namun aku tak kuasa menasihati diri sendiri dari kemaksiatan. Aku bisa memberi motivasi pada orang lain,Tapi untuk memotivasi diri sendiri aku kwalahan.. Aku bisa dengan mudah mencela k… Read More
  • KemunafikanSegala kemunafikan diri memang tak pernah bisa di bohongi, dalam hati menumpuk segala hasrat keburukan yang tertutup rapi dg tirai kebaikan, bisa jadi aku yang berjalan bak seorang yg berperangai rupawan, namun pada yang seb… Read More

0 comments:

Post a Comment