.jpg)
Bicara tentang orang
tua, memang takkan pernah bisa sempurna, sesempurna kasih sayang mereka,
seberapapun pujian kita kepada mereka itu takkan pernah cukup untuk
menggambarkan bagaimana cintanya mereka kepada kita, meskipun kita sering
menganggap sikap mereka kepada kita biasa biasa saja, atau mungkin kita merasa
bahwa perhatian mereka tak begitu istimewa kepada kita, kita sering
mengecewakan mereka dengan hal hal yang kita anggap sebagai bentuk kemarahan
atau kekecewaan kita karna tak diperhatikan, kita selalu menuntut lebih kepada
mereka atas apa yang kita inginkan, bahkan tak jarang kita melakukan
kenakalan-kenakalan yang hanya untuk menarik perhatian mereka, yang sebenarnya
hanya membuat mereka bersedih.
Membuat ibu bersedih
Mungkin itulah yang
menjadi penyesalan terbesar terhadap hidupku, ketika aku tahu bahwa hal
itulah yang pernah kuberikan kepada ibuku, aku akan menceritakan sedikit
pengalaman terburuk yang pernah kulakukan kepada ibuku, semoga bisa
menjadi pelajaran agar cerita seperti ini tak lagi pernah terjadi.
Ku masih ingat,
bagaimana ibu membesarkanku hingga sampai saat ini, sebagai seorang ibu tanpa
suami tak menjadikan ibu lemah dan berputus asa untuk membesarkan anak anaknya,
akupun baru menyadari pengorbanannya begitu amat besar kepadaku dan saudara
saudaraku, seorang wanita paruh baya sendirian bisa menghidupi 4 anak yang
masih belum cukup pengalaman untuk berpikir dewasa.
Entah darimana ia
mendapatkan nafkah untuk diberikan kepada anak anaknya, selalu saja ia
mendapatkannya, ya tentu itu semua atas Kasih Sayang Allah kepada setiap
hamba-hambaNya. Allah telah memberikan kekuatan besar kepada ibu, yang tak
pernah mengeluh dalam pengorbanannya, ia masih tegar dalam memberikan
pendidikan kepada anak anaknya, menyekolahkan ke madrasah, menitipkan ke TPQ,
dan tak henti hentinya menggerutu jika anak anaknya malas mengerjakan Sholat.
Pernah pada suatu
hari, saat itu menjelang maghrib ada salah satu temanku (cewek) datang kerumah
untuk meminjam jaket, dan pada saat itu aku hendak berangkat kemasjid, ya tanpa
berpikir panjang kuambilkan jaket itu dan kuberikan padanya, melihat itu ibuku
marah besar, ia memarahiku didepan temanku itu,
“Awii..
ndang budal nek mejid, wes adzan barang malah ape klayapan ae, opo ra krungu
adzan sak mono bantere,.dst..(Awii..buruan
kemasjid, sudah adzan malah mau kelayapan aja, apa gak denger adzan sekeras
itu).
Uhhh, betapa malunya
aku waktu itu, satu sisi apa yang dikatakan ibu itu bener, tapi disisi lain
rasa gak enak juga kepada temenku itu, jadi campur aduk perasaanku, kenapa
harus didepan temenku marah-marahnya, sampai pulang dari masjid pun ibu masih
terus memarahiku, sampai pada akhirnya akupun tak tahan dan akupun pergi dari
rumah,
Aku menginap dirumah
bibiku beberapa hari, tanpa memberi kabar apa apa kepada ibuku.
Setelah beberapa
hari itu akupun memutuskan untuk pulang, dengan perasaan yang campur aduk,
antara rasa malu dan marah yang masih melekat dihati, tapi akupun kaget dengan
apa yang dilakukan ibuku saat melihatku pulang, ia memanggilku, dan mendudukan
aku di sebuah kursi, tiba tiba ia langsung memelukku erat erat dan menangis
tersedu sedu dipundakku, sambil menangis iapun menuturiku,
“Lee.. mung korno awakmu makmu
iki tahan urip nek kene, mung korno awakmu makmu iki jek pengen urip nek kene,
mung awakmu sing iso makmu iki arepne, sing bakal iso nyenengne mak’e, sing
bakal ngancani mak’e lak wes tuwek.. lak awakmu ngeneki ambi mak’e, mak’e iki
wes gak duwe kepinginan maneh urip nek kene, mak’e bakal lungo teko kene, tapi
mak’e ngebotne awakmu le..mung awakmu sing tak boti.”
(“Lee.. hanya karna
kamu ibukmu ini bertahan hidup disini, hanya karna kamu ibukmu ini masih ingin
hidup disini, hanya kamu yang bisa ibuk harapkan, yang bakal bisa membahagiakan
ibuk, yang bakal menemani ibuk saat sudah tua, kalau kamu begini dengan ibuk,
ibuk sudah gak punya kepinginan lagi untuk hidup disini, ibuk bakal pergi dari
sini, tapi ibuk beratin kamu lee, hanya kamu yang ibuk beratin.”)
Ohh, betapa kata
kata itu bagaikan gemuruh ditelingaku, tak kuasa airmataku pun menetes dengan
deras, aku tak dapat berkata kata lagi, mulutku sudah terkunci dengan sedakan
tangis lirih.
Ibu.. maafkan aku..
aku telah menjadi anak yang paling bodoh dan jahat kepadamu, maafkan aku..
Ibu..
Dengan wajah anggun engkau memandangku dg penuh kasih sayang,
setiap tatapan begitu berarti,
memberikan asa di setiap keraguanku..
Ibu..
Kala kau ulurkan tangan lembutmu,
di sanalah tangan malaikat membimbingku,menjalankan amanat dari sang maha kasih,untuk membawaku pada masa depan yg terang,
Setiap langkah dari kaki kaki kecilmu menuntunku,menuju keabadian cinta pada sang penguasa hari,karna setiap langkahmu selalu memanjatkan do'a untukku,
Ibu..
Kemuliaanku adalah ketika aku bisa memuliakanmu,penuh ketulusan,
maka ijinkanlah aku berbakti padamu,meskipun hanya dg membuat ulasan senyum untukmu..
Ibu..
Aku mencintaimu.,meskipun sering aku menyakiti hatimu,
maafkan anak yg penuh kedurhakaan ini ibu,sejujurnya aku tak pernah bermaksud untuk itu,
Ibu..dg segala kerendahan hati aku meminta padamu,
Ijinkanlah aku untuk bisa melihat keindahan surga,yg sesungguhnya ada di telapak kakimu..
Karna hanya dg ridhomulah,pintu itu dapat terbuka untukku..
Dengan wajah anggun engkau memandangku dg penuh kasih sayang,
setiap tatapan begitu berarti,
memberikan asa di setiap keraguanku..
Ibu..
Kala kau ulurkan tangan lembutmu,
di sanalah tangan malaikat membimbingku,menjalankan amanat dari sang maha kasih,untuk membawaku pada masa depan yg terang,
Setiap langkah dari kaki kaki kecilmu menuntunku,menuju keabadian cinta pada sang penguasa hari,karna setiap langkahmu selalu memanjatkan do'a untukku,
Ibu..
Kemuliaanku adalah ketika aku bisa memuliakanmu,penuh ketulusan,
maka ijinkanlah aku berbakti padamu,meskipun hanya dg membuat ulasan senyum untukmu..
Ibu..
Aku mencintaimu.,meskipun sering aku menyakiti hatimu,
maafkan anak yg penuh kedurhakaan ini ibu,sejujurnya aku tak pernah bermaksud untuk itu,
Ibu..dg segala kerendahan hati aku meminta padamu,
Ijinkanlah aku untuk bisa melihat keindahan surga,yg sesungguhnya ada di telapak kakimu..
Karna hanya dg ridhomulah,pintu itu dapat terbuka untukku..
Bersambung………
0 comments:
Post a Comment